Jendela Hujan

Ada 0 Komentar


Hujan mengiris ribang. Menetak sekujur tubuh. Geligis lahirkan cemas.

Di tatapnya hujan lebih lama dari biasanya. Ia sedang mencari celahnya—sia-sia saja, menunggunya reda juga percuma. Sementara malam hampir tiba. Resah biak di wajahnya yang pucat di tetak gigil. Ia singgah bernaung, tapi hanya sekejap saja lalu menerabas kembali hujan.

Tetesan hujan serasa jarum menerpa wajah.  Dan hanya sepersekian menit,  baju dan celana dalamnya kuyup.  Namun, tekad untuk sampai ke rumah lebih gelitar. Bayangan seseorang mengerumuni matanya—bayangan neneknya yang  rentah.  

Pikirannya sedang dirimbuni tanya, bagaimana jika neneknya jatuh dari tempat tidur karena berusaha mengemasi barang-barang agar tak terjamah banjir, atau bagaimana jika buku-bukunya terendam  lalu kisah di dalamnya menghilang. Sungguh ia tak tega jika itu terjadi. Maka, tak ada bernaung lebih lama. Ia harus lacciri ‘cepat’ sampai ke rumah.

Hujan mengganas. Ia  dilibas—remuk.

Mestinya lebih awal ia sampai agar bisa menyaksikan air merasuk lembut ke dalam rumah dan menggenanginya.  Ya, harusnya begitu, tapi perjalanan selalu punya aral yang kerap tak terduga. di perjalanan pulang dari pesta pernikahan  kerabat  jelang malam itu. Hujan tumpah dan ban motornya bocor. Ia mendorong motor cukup jauh sebelum menemukan penambal ban. Gigil meramu derita sedemikian memikat, gigil  tembus ke tulang. Tapi ia tak berhenti.

Aral itu mengandaskan inginnya tiba di rumah lebih cepat. Setelah ban motornya ditambal, ia tak bisa melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Jalan mulai diserang air, macet membuatnya mengelus dada. Tapi ia harus menerabas semua tantangan itu,  tak dihirau  rammusu ‘demam’ yang akan menetak sekujur tubuhnya.  Suara klakson bersahutan sampai ke telinganya mengalahkan suara hujan. Semua orang seperti dirinya,  ingin sampai ke rumahnya dengan cepat.

Hujan merintih. Riciknya gaduh. Ia kuyup. Ia melaju.

Di rumah tua itu ia hanya tinggal berdua dengan neneknya yang   renta. Kedua orangtuanya lupa pulang dari rantau. Ia telah berjanji akan menjaga neneknya melebih apa pun, bahkan melebihi dirinya sendiri.

Ia suka jika hujan, neneknya akan bercerita banyak hal. Ia ingin menyaksikan air masuk ke rumahnya dengan lembut sambil mendengar neneknya  ma’royong. Royong adalah musik entik Makassar yang mengandung nilai moral. Ketika kecil neneknya biasa ma’royong mengantarnya pada tidur. 

Hujan menganga. Perihkan luka. Setubuhi rindu. Ia mencarimu dalam hujan.

“Aku ada dalam hujan.” Tetiba saja sebuah suara merasuki kokleanya. Suara  itu nyaring kalahkan ricik hujan, lalu ia mengingatmu, Miala. Dulu kamu kerap mengajaknya menikmati hujan di malam hari. Katamu, hujan lebih romantis jika malam. Hanya saja ia selalu abai. Dan malam ini ia nikmati tanpamu—penyesalan tanak di matanya.   Ia mencari sisi romantis dalam hujan, juga  mencari kebenaran perkataanmu tentang hujan. Ia juga mencarimu, Miala.

Diakuinya dengan jujur, kamu perempuan yang memaksanya mengerahkan segala cintanya. Tapi, cintanya tak pernah cukup menahanmu bertahan di sisinya. Kamu pergi tanpa jejak sama sekali.  Setelah pergimu, beberapa kali ia ingin jatuh cinta pada perempuan lain, namun selalu gagal.  Napasnya telah tassikko’ ‘terikat’ kepadamu. Ia mencintaimu seperti hujan mencintai riciknya, seperti malam mencintai gelapnya. Dengan mencintaimu, segala kekurangan yang meraja dalam dirinya jadi kesempurnaan.

“Cinta akan menggenapi kita, sayang,” kata-katamu memesrainya dalam hujan.  Ia perlahan paham kenapa kamu menyukai hujan, kenapa kamu acap memintanya menikmatinya bersamamu? Dalam hujan, pelukan dan ciuman lebih menggemaskan, dan segala kenangan mampu dihadirkan  lebih  mendebarkan. Hujan adalah cinta itu sendiri.

Hujan berkisah. Luapkan kenangan. Ia terengah

Malam mulai menua.  Ia masih berjibaku dengan macet dalam hujan. Dicobanya  abaikan bayangan neneknya dan juga bayanganmu, Miala.  Hujan kian deras, tusukan di wajahnya lebih menikam lagi. Ia sedang mencari celahnya.  Sia-sia saja, menunggunya reda juga percuma. Ia terus saja melaju—mengabaikan rammusu yang akan peluki tubuh kurusnya.

Hujan merengek. Bayangan berkelabat. Cinta berwajah samar.

Meski laju motornya  lambat. Ia akhirnya sampai di ujung lorong rumahnya. Genangan  menggila. Nyaris motor yang dikendarainya  tak bisa lewat.  Beberapa kali pula ia nyaris jatuh. Ketika sampai di pintu rumahnya, hujan belum reda. Diketuknya pintu tiga kali. Ketukan tiga kali adalah isyarat yang memberitahukan neneknya kalau ia sudah pulang.  Setelah pintu yang tak terkunci terkuak. Genangan air di dalam rumah membuatnya tertegun lama. Sebelum suara batuk-batuk perempuan tua itu menyadarkannya. Ia segera menemuinya—perempuan itu menyambutnya dengan senyum.

“Air yang masuk ke rumah tadi sangat lembut, seperti cinta kakekmu yang begitu lembut merasuk ke hatiku. Kakekmu adalah cinta pertama dan terakhirku. Namun, ia bukan lelaki terakhir bagiku, yakinlah, Nak, tak ada orang yang bisa menjadi yang terakhir dalam hidupmu, karena akan selalu ada orang lain yang datang mengisi sisi hati kita yang lain,” terang neneknya panjang lebar.

Ia hanya tertegun menatapnya. Bayanganmu kembali membanjir dan menetes ke hatinya, Miala. Pada ‘seperti’ tetesan hujan dari pakaiannya yang kuyup, menyatu dengan air yang menggenangi lantai rumahnya malam itu.

“Akan selalu ada cinta bagi orang yang mencintai, Nak,” ujar neneknya lagi.  Neneknya  menunjuk air yang masuk ke rumah dengan lembut. Beliau tak pernah memaki hujan yang menyebabkan rumah kebanjiran. Karena ia menyukai hujan. Banyak kenangan dalam hujan bersama suaminya. Bagi perempuan renta itu, hujan adalah jendela menemukan kekasihnya, lelaki yang mengajarinya menjadi perempuan.

Hujan bertasbih. Ribang meruah di hatinya. Kamu menari di pelupuk. Ia mencarimu, Miala. ###

Cat: posko Malut, Sabtu, 20 Januari 2018

Baca Lengkap

Ke Kahayya

Ada 0 Komentar

Ke Kahayya

Ada nama yang tak pernah sampai pada pendengaranmu. Dan begitu sampai, kau akan mengerutkan dahi, mencoba membayangkan pemilik nama itu, namun terus saja gagal. Lalu kau akancari tahu apa yang menarik di balik nama yang baru saja kau dengar. Kau akan bertanya lebih banyak seperti orang yang baru jatuh cinta.

Aku ingin menyebut satu nama yang bisa jadi baru pertama kali kau dengar. Nama yang bukan nama orang, tapi sebuah kampung paling ujung di sebelah barat Bulukumba, kampung yang belum cukup sedekade bercerai dari induknya agar bisa mandiri--bernapas sendiri. Kampung yang pernah aku jadikan judul cerpen di buku Lelaki Gerimis.

Ibuku lahir dan besar tak jauh dari kampung itu (tetangga dusun) sebelum menyingkir ke kota, yang di sebut kota kala itu, saat pasukan Kahar Muzakkar berkuasa, bukan kota seperti dikenal sekarang, tapi sebuah perkampungan yang telah dikuasai oleh tentara--pasukan pemerintah. Orang- orang pada waktu itu menamainya tempo panynyingkirang "waktu menyingkir" meninggalkan kampung tercinta, tempat ari-ari ditanam, tempat darah pertama tumpah.

Ibuku selalu mengenang kisah itu, saat gurilla 'pasukan gerilya' berkumpul di rumahnya untuk makan atau sekadar melepas lelah, minum kopi dengan senjatanya yang selalu siaga. Masa gerilya berkeliaran di kampung itu di sebut tempo gurilla.
                      *****

Tadi pagi, di awal tahun 2018, aku, Ayah dan Ibu kembali ke kampung itu, memanen buncis yang ditanam Ibu. Kampung yang kami tuju hari ini adalah Kahayya, dulu merupakan sebuah nama dusun, tapi setelah lepas dari induknya, Desa Kindang, Kahayya menjadi nama desa. Kahayya pasti terdengar asing di telingamu, bukan?

Kahayya berada di lereng gunung Bawakaraeng, desa itu kini menjelma tempat wisata  yang menarik banyak orang mengunjunginya.

Tempatnya paling ujung di Bulukmba, berbatasan dengan Sinjai yang hanya dibatasi sungai Balantieng, uang konon adalah sungai paling berani di antara beberapa sungai yang menyusu di gunung Bawakareang, sebab hanya sungai Balantieng yang berani sampai ke Kajang, yang tersohor itu. Bahkan memeluki Kajang.

Di sebelah barat Bulukumba, setidaknya ada empat sungai yang lumayan besar, sungai Bialo, Bijahang, Addungan, dan Balantieng. Pada perjalanannya Addungan dan Balantieng bergabung. Kahayya memiliki dua sungai itu. Addungan dan Balantieng, Addungan menjdi batas antara Desa Kindang dan desa Kahayya.

Dulu, sebelum Kahayya berdiri sendiri, kampung itu adalah kampung mati dan orang-orangnya selalu jadi lelucun jika ada orang yang "norak" orang-orang akan mengatakan padai tau kahayyya 'seperti orang Kahayya'

Setelah mekar, dan jalan mulai bagus. Orang-orang justru berbondong-bondong ke Kahayya yang menawan keindahan alamnya, bukit di kiri kanannya, ada danau kahayya, yang lebih dikenal dengan Lurayya, di ujung danau itu, kini telah dibuat kolam renang.  Sejak kolam itu ada, yang berdiri di dekat pohon beringin yang disakralkan, nuansa keramat pohon itu seakan pudar dan barangkali belut jinak yang biasa keluar dari mata air yang tak jauh dari beringin itu pun telah pergi. Belut itu biasa makan telur di tangan pengunjung. Konon ada pengunjung digigit tangannya, ia akan mendapat jodoh.
                   *****

Tadi pagi aku ke Kahayya, berjalan kaki, terlalu banyak yang berubah, selain jalan dan lurayya menjadi tempat wisata, di  Gamacayya ada baruntung tinggia 'air terjun yang tinggi'  ada air terjun permandian bidadari yang bersusun tiga. Ibu selalu menamainya panrio rioanna to sunrayya 'tempat mandinya orang yang tak kasat mata.' Kata Ibu, dulu sering terdengar suara orang mandi di air terjun yang bersusun tiga itu padahal tak seorang pun yang kasat mata hanya suara saja yang kedengaran.

Bukan hanya jalan yang berubah dan orang lebih banyak ke Kahayya, tapi juga perekonomian warga mulai meningkat, kopi, jagung dan sayur-sayuran menjadi andalannya

Dan yang mencengangkan sekaligus mengerikan, dulu sebelum di mekarkan, jika ada orang naik motor atau naik mobil ke Kahayya, orang-orang  akan kaget dan menjadi perbincangan. Sekarang (tadi pagi) ketika aku jalan kaki bersama Ibu dan Ayah, orang-orang kaget melihat kami jalan kaki. Jalan kaki ke Kahayya seakan telah menjadi tabu.

Satu lagi, jika ke Kahayya jangan lupa ke Donggia minum kopi, letaknya di ujung Kahayya. Di Donggia kau bisa melihat sungai Balantieng yang berani itu.

Kindang, 1 Januari 2018

Baca Lengkap

Danniari

Ada 0 Komentar

Di danniari ia meninggalkan kota di selatan itu menuju kota yang penuh sejarah. Belum ada tidur menjenguki dirinya. Ia mengendarai motor seorang diri, melawan gigil, kantuk, dan rasa takut. Dua kali ia keluar jalur, untung saja laju motornya tidak kencang hingga ia bisa selamat, tidak terjatuh.

Ia memang tidak suka jika motor yang dikendarainya melaju kencang. Sebab ia tidak leluasa menikmati perjalanannya, tidak leluasa menyaksikan banyak hal, dan alasan sebenarnya, ia acap merenung saat mengendarai motor, menciptakan kisah di kepalanya. Barangkali ia berbakat jadi penulis.

Di danniari 'dini hari' ia baru pulang di sebuah rumah yang terletak di tengah empang, rumah kosong itu penuh debu. Ia tiba di sana saat malam mulai menua, belum sempat istirahat dari perjalanannya dari kota bersejarah, lelah tumbuh di matanya, wajahnya terlihat lecek, tapi tanggung jawab dan janji harus dituntaskan. Dan ia ingin menuntaskannya malam itu.

Di hadapan sekitaran 40 orang, yang sebagian telah diserap kantuk dengan sangat rakus, ia berbicara, membagi kisahnya, bagaimana cara menulis, menuliskan sebuah kisah. Ia menutup "materinya" saat waktu telah terjerembab ke danniari, kemudian bergegas pulang. Tawaran singgah di rumah kawannya diabaikan. Bukan karena sombong tidak mau singgah membaringkan badannya yang lelah, tapi ia ingin punya kisah, punya kenangan di danniari, bagaimana rasanya mengendarai motor seorang diri di danniari dari kota di selatan itu.

Ia selalu merasa perlu memiliki cerita yang akan diceritakan kelak, entah pada siapa. Barangkali kepadamu jika nantinya ada sempat untuk bertemu. Ia juga akan menceritakan, setelah sampai di rumah yang dihuninya, di pinggir jalan raya, di depan kantor pos di kota penuh sejarah itu. Tubuhnya lemas dan ia tidak ke mana-mana seharian. Hanya memanja saja, mengistrihatkan tubuhnya.

Di kota penuh sejarah itu, sejarahnya seperti hilang dengan sendirinya. Tempat-tempat yang menyimpan sejarahnya adalah tempat yang paling sepi dari pengunjung. Konon, mahkota raja dan beberapa benda sejarah lainnya, bukannya di simpan di museum untuk dinikmati pengunjung agar mendapat pelajaran dari masa lalu, benda-benda itu, konon disimpan di sebuah bank.

Maka kelak, jika kamu bertemu dengannya, janganlah meminta diceritakan tentang kota bersejarah itu, sebab kota itu telah hilang sejarahnya sendiri. Ia dengan suka rela akan menceritakan sebuah kisah yang lain, tentang perjalanannya dari sebuah kota di selatan mengendarai motor seorang diri di danniari.

Rumah kekasih, 30 Oktober 2017

Baca Lengkap

Sebuah Tiba

Ada 0 Komentar

JEJARI...Gerakannya yang lincah dan bertenaga ketika turun tangga perlahan mulai hilang. Bukan karena dirampas usia. Ada sesuatu bermukim dalam dirinya dan enggan pergi. Ini hari kelima kegesitan itu lesap dari pandangan. Tenaganya, entah terlipat di mana. Dicarinya di saku celana, lemari, laci, tempat tidur, selimut, sarung, bahkan hingga ke celana dalamnya, tapi tidak ditemukan. Lima hari lalu, panas merayapi tubuhnya, panas yang berengsek, sebab membuat dirinya nekkere 'gemetar' karena kacicci' 'dingin'. Dua selimut dan satu sarung tidak sanggup mengusir kacicci' dari tubuhnya.

"Hidup hanyalah tentang giliran." bujuknya pada diri sendiri. Sekarang ini, gilirannya yang sakit, sebab tibalah giliran sehat pergi dan sekarang giliran sakit yang menghuni tubuhnya. Angin berembus masuk lewat cela dinding papan rumah panggungnya yang kian menebalkan rasa kacicci'nya. Ia teramat lemah bergerak menghindari hembusan angin. Hidungnya sesak ingus, dan tenggorokannya gatal, jika ia batuk dahak menggumpal keluar dengan kental.

Pulang kampung kali ini harusnya ia mengunjungi kerabat dan beberapa sahabat dari masa lalu, saling berjabat tangan lalu mengucapkan maaf. Harusnya ia menampung banyak ingatan kenangan kanak, tentang layang-layang, kelereng, main perang-perang, menangkap capung, berenang di sungai addungang, mappe' 'menembak burung dengan ketapel' dan tentang seseorang yang pergi jauh.

Semua rencana yang tumbuh di kepalanya sebelum pulang kampung luruh menuju gagal. Di malam takbiran rammusu 'demam' berjalan mendekatinya seusai buka puasa. Ia membaringkan tubuhnya di sofa, membalutinya dengan selimut tebal. Tapi hangat enggan mampir. Ia lewatkan begitu saja keriuhan di jalan oleh mereka yang melepas ramadan dan menyambut hari idul fitri.

Ini hari kelima ia tak bisa leluasa bergerak. Rammusu memang telah pergi dari tubuhnya, tapi hidungnya masih tersumbat ingus, batuk masih betah dalam dirinya dan lemas bergelayut di tiap tulangnya, yang membuat ketika ia menuruni tangga kelincahannya yang bertenaga tidak terlihat. Tapi, ia masih tetap bertenaga dalam merindu....hahahhah.

.....,baik kuberitahukan saja siapa yang saya maksud, ia seorang lelaki. Jika kamu sulit membayangkan wajahnya seperti apa, kamu bisa membayangkan itu saya. Tapi, saya tidak akan jamin jika itu sepenuhnya benar...bisa saja tebakanmu keliru...

Kindang, 28 Juni 2017

Baca Lengkap

Binar Redup di Rumah Kekasih

Ada 0 Komentar

Cuaca yang lebih kerap mendung membuat debu lebih adem berkunjung ke rumah kekasih. Di teras, gumpalannya tidak setebal biasanya. Hasilnya, teras terlihat lebih bersih. Lantai ruang tamu pun demikian, tiga ekor kelelawar yang sering membuang kotoran, dua di antaranya telah tersangkut di kail yang buatnya temui kematiannya.

Kelelawar yang seekor itu, barangkali mulai takut atau ia kesepian beterbangan sendiri di ruang tamu dan akhirnya lebih memilih pindah ke tempat lain mencari teman baru untuk bermain. Kesepian selalu jadi ancaman yang mengerikan, tapi, sayangnya kita tetap membutuhkannya. Seperti sebuah rumah yang selalu kita butuhkan untuk pulang, serupa itulah kesepian. Hemmmm.

Di rumah kekasih, sepi tidak pernah benar-benar pergi. Telah jadi bagian paling romantis di antara kisah-kisah masa lalu di deretan foto yang hiasi dinding. Jadi cerita kenangan pada majalah tempo dulu. Dan debu jadi tamu tetap yang tidak meminta apa-apa.

Dan sepi di rumah kekasih sejak kemarin akan terasa lebih kental melebihi susu coklat dalam kaleng. Bukan karena debu mulai berkurang disebabkan cuaca mendung, bukan itu. Tapi, karena Binar (nama Notebook) sedang redup. Ia sedang sakit. Binar yang berwarna biru itu, barangkali lelah menampung banyak kisah yang tidak pernah kunjung usai, salah satu kisah itu adalah kamu, tentu saja.

Sakitnya Binar jadi peristiwa yang membuat lippu 'bingung' kepala terasa dangngala 'pening' lebih acap dari biasanya. Tentu saja kamu tahu, di dalam tubuh Binar banyak hal yang harus selesai, di antaranya surat cinta untukmu. Binar adalah rumah bagi setiap kenangan, jika ia sakit dan tidak bisa sembuh. Aaaahhh, saya benci membayangkan yang akan terjadi.

...hemmm, maukah kau berdoa untuk kesembuhan Binar?

Rumah kekasih, 28/3/2017 -

Baca Lengkap

Mata di Sebuah Kota

Ada 0 Komentar

mata itu timbul tenggelam di dapur. air asam sedang didih. nasi tegaskan panas dengan rumung. jam mendesak, paksa kita segera tinggalkan rumah. kita bertahan, tunggui nasi jadi hangat. air asam tak melepuhkan.

tak ada mie instan pagi itu. hanya ada garam, vetsin, dan asam. perut tak perlu gizi hanya isi. kita makan tergesa. sebentar lagi indonesia raya penuhi udara. air minum dituang, membujuk zat kapur tidur di dasar gelas.

tak ada teh atau kopi pagi itu. tak ada pula kopilangi'. hanya ada mata lelah, semalaman kita main domino, rayakan dua hari lalu ayam tetangga berhasil dijebak dalam karung. lalu kita memotongnya. tubuh butuh zat besi, katamu setengah serius.

kota ini adalah diari. pinjamkan halaman demi halaman menyimpan wajah kita. polos rabai masa depan. halaman-halaman itu enggan tertutup sepenuhnya. selalu siaga jika tiba-tiba kita pulang. kota ini ingatkan segala lampau.

mata itu tak lagi timbul tenggelam di dapur tunggui air asam didih. nasi jadi hangat, zat kapur tidur di dasar gelas. mata itu kini redup oleh sendiri.

Bulukumba, 21/3/3017

Baca Lengkap

Google+

Isi Blog