Merayakan Waktu

Ada 1 Komentar
“waktu yang dinikmati adalah liburan sesungguhnya”

Seenaknya saja saya mengeluarkan pendapat tersebut, ketika seorang teman bertanya kemana saya akhir pekan ini. Teman saya tersebut menertawakan saya ketika mengatakan bahwa tak ada dalam rumus kehidupan saya agenda akhir pekan, jika saya ingin pergi ke suatu tempat, maka saya akan mendatanginya hari apapun itu—jika kondisi memungkinkan. Dan teman saya tadi lebih tertawa lagi, lebih tepatnya mengejek ketika saya katakan, sudah cukup lama saya lebih merasa lebih nyaman di rumah kekasih.

“Apa kamu tidak bosan, nikmati waktu dengan jalan-jalan,” katanya sambil menahan tawa. Maka saya menjawabnya dengan jawaban seperti di awal tulisan ini—yang diketik miring. Bagi saya apapun itu, dimanapun saya jika saya merasa menikmati waktu yang saya miliki, entah dengan sendiri atau ramai-ramai, entah dengan jalan-jalan atau sendiri di rumah adalah liburan sesungguhnya. Barangkali hal tersebut berlaku karena saya tidak punya kesibukan yang berarti.
Selain jualan buku, mengkhayal, dan mengerjakan tugas akhir. Aktivitas saya hanya berceloteh tak berarti di media sosial.

“Kamu sepertinya tidak bahagia, tidak pernah terlihat jalan-jalan, menghadiri pesta lalu mempostingnya di sosmed?” lanjut teman saya tersebut dengan pertanyaan yang mulai memvonis. Saya ingin bertanya kepadanya, tahu darimana saya bahagia atau tidak? Kebahagian adalah peristiwa batin yang tidak bisa dipastikan hanya dari senyum seseorang. Saya juga ingin mengatakan kepada teman saya tersebut, bahwa saya tidak percaya bahwa pesta dan jalan-jalan adalah satu-satunya cara merayakan kebahagian. Saya tidak yakin, mereka yang tertawa di meja makan adalah orang yang benar-benar bahagia atau mereka yang berselfie ria dengan latar pemandangan menakjubkan adalah orang yang benar-benar bahagia.

Pada sebuah sempat, ketika sedang berada di Malang, Jawa Timur. Saat itu, saya baru saja turun dari bus bersama dua orang teman, kami dari Surabaya. Perut keroncongan, hari sudah beranjak menuju siang yang larut. Kami memasuki sebuah warung di terminal, tak terlihat senyum di wajah kami karena capek dan lapar. Wajah kami justru terlihat cemas karena pertama kalinya ke Malang dan lebih cemas lagi bercampur bingung ketika membayar makanan yang harganya sangat jauh dari harapan kami. Tapi saya tidak bisa menjamin, apakah kedua orang teman saya tersebut juga cemas seperti saya lantas mereka tidak bahagia.

Perjalanan tersebut kami lakukan bertiga, tapi pengalaman batinnya adalah milik masing-masing dari kami—tak ada yang bisa mencurinya. Saya berusaha menikmati perjalanan tersebut, tapi sulit karena dibekapi rasa capek. Maka saya mengambil kesimpulan kecil, bahwa perjalanan atau jalan-jalan tak selamanya bisa menjadi liburan jika kita tak bisa menikmati waktu tersebut. Hanya saja, semakin banyak berjalan, semakin banyak pula yang akan kita lihat dan memberikan pelajaran serta pengalaman tak terhingga, sangat berharga.

Seorang teman lainnya, sangat risau karena ia tidak bisa jalan-jalan di hari Sabtu dan Minggu. Ia baru saja kecelakaan motor, yang menyebabkan giginya goyang dan nyaris dicabut. Ia kesakitan jika makan. Bukan hanya itu, lututnya luka dan matanya serupa sudah ditinju, lebam. Dahi dan bibirnya pun ikut luka. Maka tak ada pilihan lain, ia harus rela berbaring di rumah kontrakannya, jauh dari sanak keluarga. Tapi kerisauannya karena tidak bisa jalan-jalan tersebut memberikan ia pelajaran yang berharga, seseorang dengan leluasa bisa meneleponnya. Berbagi rasa dan rindu, yang sangat sulit mereka temukan di hari Senin-Jumat karena teman saya tadi harus bekerja. Waktu luangnya hanya di hari Sabtu dan Minggu dan itupun dihabiskan dengan jalan-jalan bersama teman-temannya yang lain. Sehingga lelaki yang menaruh perhatian kepadanya akan sulit menghubunginya. Maka saat teman saya kecelakaan dan mengharuskan tinggal di rumah, lelaki tersebut leluasa meneleponnya dan mungkin dari peristiwa kecelakaan yang menyebabkannya risau tersebut karena tak bisa jalan-jalan, ia akan menemukan kekasih dalam diri lelaki tersebut.

Saat ini, saya sedang di halaman rumah kekasih ditemani lagu Pria Kesepian dari Sheila On 7. Dan saya sangat menikmati suasana ini, waktu ini. Ini adalah liburan sesungguhnya. Sekali lagi saya tidak yakin bahwa cara terbaik merayakan kebahagian adalah pesta dan jalan-jalan, ada banyak cara merayakannya, misalnya....

Rumah kekasih, 23 Januari 2016 


Halaman rumah kekasih, di bawah pohon mangga

Baca Lengkap

Asam dan Prof yang Tak Ingin Marah

Ada 0 Komentar
JEJARI…lagi dan lagi, saya tidak mencatat peristiwa itu, ketika Prof (demikian saya memanggil pemilik rumah kekasih) menelepon pada suatu pagi yang masih disisai kantuk. Seperti biasa dengan suara gelegar, beliau bertanya kabar saya bagaimana dan kondisi rumah bagaiman? Harusnya saya catat hari itu, hari dimana Prof menelepon karena ada pelajaran berharga yang diajarkan secara tidak langsung kepada saya, bagaimana menjaga perasaan seseorang.

Di akhir September tahun 2015 lalu, saat itu saya sedang tidak di rumah kekasih, bahkan sedang tidak berada di Sulawesi Selatan. Kisah tentang rumah kekasih pun berubah. Tak lagi sama ketika saya tinggalkan. Perubahannya amat drastis, hingga saya merasa asing sendiri ketika pertama datang. Di garasi telah terpasang tempat cuci piring, halaman rumah tepat di bawah pohon mangga telah cor dan cat rumah yang pucat berubah cerah, serta tambah bersih.

Di depan pagar, terdapat tumpukan pasir dan pagar tidak terkunci seperti biasanya. Hanya derit pagar besi dengan cat putih tak berubah, masih serak. Perlahan saya melangkah masuk ke halaman rumah. Pot-pot yang berserakan di halaman rumah telah dipindahkan ke tempat lain. Aroma cat menyambut tajam. Saya terpaku cukup lama, rasa capek perlahan hilang karena dikudeta oleh rasa asing. Rupanya kejutan tidak sampai di situ saja, ketika saya membuka pintu rumah, ratusan karung asam menyambut di ruang tamu.

Sejak akhir September tahun lalu itulah, wajah rumah kekasih berubah. Mulai akrab dengan aroma asam yang awalnya tampak kalem seperti tumpukan beras yang tidak akan mengeluarkan airnya. Namun beberapa hari kemudian, air perlahan menetes dan memenuhi tenda biru yang jadi alas karung-karung asam tersebut agar tidak bersentuhan langsung dengan lantai keramik putih. Satu atau dua minggu air asam hanya menggenangi tenda tersebut. Namun minggu-minggu berikutnya, airnya mulai melumari lantai dan saya memiliki kerjaan baru “ngepel” ngepel air asam tiap hari.

Kehadiran ratusan karung asam di rumah kekasih menjadi kisah tersendiri, menghadirkan gerah yang tak biasa, hampir merusak beberapa foto yang tergantung di dindingnya dan jadi sambutan keheranan jika ada yang bertamu. Karena asam itu pulalah Prof memberi saya pelajaran yang sangat penting. Bagaimana cara mengolah sesuatu yang “mungkin” menghadirkan kemarahan yang tak bisa ditahan, harus dimuntahkan.

Ketika pertama Prof berkunjung dan mendapati asam menyesaki ruang tamu. Ia geram dan memerintahkan agar asam tersebut segera dipindahkan, “beritahu siapa saja yang datang (yang punya kaitan dengan asam tersebut) agar segera memindahkannya, saya tidak mau melihatnya lagi jika berkunjung,” demikian ultimatum Prof. Saya hanya mengiyakan saja.

Entah berapa hari setelah kunjungan tersebut, Prof menelepon menanyakan kabar saya dan juga apakah asam sudah dipindahkan atau belum? Perintahnya tetap sama, segera dikosongkan rumah kekasih dari asam-asam tersebut. Prof tak mau terima alasan apapun. Saya kembali hanya mengiyakan. Prof paham saya tak punya kuasa atas asam itu.

Di satu sisi saya bersyukur dengan adanya asam tersebut, karena Prof sangat rajin menelepon, menanyakan kabar saya dan berakhir dengan perintah yang sama, perintah yang lebih tepat disebut permohonan yang sangat agar rumah kekasih terhindar dari aroma asam. Saya kadang ingin mengatakan kepada Prof, kenapa beliau tidak menelepon langsung ponakannya yang telah dijadikan anak angkatnya itu, pasti anaknya itu akan mendengarkannya.

Pertanyaan tersebut berkecamuk cukup lama dipikiran saya. Lalu kemudian, tibalah pagi itu, yang harusnya saya catat karena memberikan pelajaran yang besar kepada saya. Kantuk masih bertengger di mata saya, suara saya masih parau tapi karena Prof yang menelepon maka saya membuat suara saya “seindah” mungkin agar terhindar dari cap malas oleh Prof..hahahhahahahha.

Seperti biasa, pagi itu Prof menanyakan kabar saya dan asam tentunya, ketika saya jawab asam masih ada. Suaranya terdengar geram. Beliau memohon dengan sangat agar asam tersebut segera dipindahkan. Lagi-lagi saya bertanya kenapa tidak langsung saja beliau menelepon anaknya?

“Saya tidak bisa menelepon langsung anak saya (ponakan) karena saya pasti memarahi dia, saya tidak mau marah kepadanya, makanya saya menelepon kamu,” ungkap Prof, seakan tahu pertanyaan yang telah berkecambah lama di pikiran saya.

Saya tersentak kaget mendengar alasan Prof, betapa bijaknya, betapa penyayangnya orang tua itu. Betapa cintanya belaiu kepada ponakannya yang telah diangkat menjadi anak angkat sejak ponakannya tersebut masih kecil. Sungguh pagi itu, menjadi pagi yang sejuk bagi saya di antara aroma asam yang mengantar gerah. Prof mengajarkan bagaimana cara menghindari kemarahan, bagaimana menghargai perasaan orang lain, bahkan anak sendiri, tidak seharusnya dimarahi jika melakukan kekeliruan. Prof tak ingin anaknya terluka oleh amarahnya, beliau tak ingin menorehkan luka…

Vetaran Utara, 20 Januari 2016 


                                                 Asam di rumah kekasih..
Baca Lengkap

Kappo'

Ada 4 Komentar
Rasa pegal tubuhku masih benalu. Suara hilang ditelan tiga kota. Demam berkali-kali mengancam tapi tak pernah berhasil memalutku. Pagi ini aku mandi lebih awal. Mengusir pening di kepala yang sejak kemarin mulai bermukim. Semalam aku pun tidur lebih awal mengabaikan suasana Jogya dimalam hari. Pagi ini pula menjadi pagi kesekian tanpa kopi. Barangkali faktor tanpa kopi itulah yang buat kepala pening dan tubuh disesaki pegal.

Rasa pegal sepertinya akan betah di tubuhku, sebentar jelang siang, kembali harus menempuh perjalanan 10 jam menuju Surabaya lalu besok naik kapal sehari semalam menuju Makassar. Di Makassar, tak ada waktu untuk bermalas-malasan ditempat tidur--menghilangkan pegal di tubuh. Sebukit kesibukan telah menanti. Dan yang paling mengesankan adalah akan ada perjalanan kembali ke Bulukumba naik motor kurang lebih 4 jam, lalu satu dua hari kembali ke Makassar.

Sepertinya bulan September dan Oktober menjelma bulan perjalanan. Aku tak tahu sejauh mana tubuhku mampu bertahan melawan perjalanan itu. Jika tubuhku tak sanggup, aku hanya ingin berakhir dipelukmu, sebagai kekasih. Selain pegal, dan suara hilang ,satu hal lagi yang tak terhindarkan pagi ini, perut resek, terlalu manja untuk saja kamar belakang bagus. Jika saja perut ini resek saat di malang, dimana kamar belakang bermasalah, betapa mengerikannya.

Perjalanan tak punya sisi keseruan jika berjalan lancar, harus ada sakitnya. Jika ada bulan di tahun ini yang harus tercatat dalam sejarahku tentu adalah September dan Oktober serta bulan pergimu yang aku lupa bulan apa??

 Yogyakarta, 5/10/2015


Malang, Jawa Timur ketika itu bersama Ilham Achmad dan Akmal Salam




  • Malang, Jawa Timur ketika itu bersama Ilham Achmad dan Akmal Salam
Baca Lengkap

Cinta yang Binar

Ada 0 Komentar
“Saya kembali menemukan kekuatan cinta di mata kalian, penuh binar, penuh kebeningan. Selamat menempuh hidup baru. SAMAWAKI” 

Kurang lebih seperti itu, yang saya tulis pada kado pernikahan seorang teman. Kado yang tak terlalu istimewa. Ada kebiasan “buruk” yang menimpa saya sekarang. Memberikan kado kepada teman yang menikah berupa buku. Alasannya sederhana, buku bisa diwariskan ke anak-anak mereka kelak dan tentu saja bisa mencerdaskannya. Tapi alasan paling masuk akal adalah harga buku lebih murah apalagi jika ada diskon. Hahha.

Semalam saya menghadiri resepsi pernikahan teman “Aya’ dan Muhlis”. Mereka adalah sepasang kekasih yang telah bertahun menjalin hubungan asmara, yang tidak bisa dikatakan sangat mulus hingga sampai ke jenjang pernikahan. Banyak rintangan yang mereka hadapi, termasuk beberapa kali putus lalu nyambung kembali, juga diwarnai beberapa kali “perselingkuhan”. Rupanya tantangan itulah yang mematangkan hubungan mereka. Ujian masa pacaran berhasil dihadapinya, hingga menuju pada ijab Kabul dan mereka “Muhlis dan Aya’” kini menjadi sepasang suami istri yang di matanya berbinar cinta.

Tantangan cinta sesungguhnya baru mereka hadapi, sebab mereka tidak bisa lagi berlagak seperti ketika pacaran dulu, bisa putus nyambung dan juga selingkuh. Saat itu, belum ada ikatan di antara keduanya. Jika berpisah statusnya tidak akan berubah, belum melibatkan dua keluarga besar yang telah berjuang menyatukan cinta mereka.

Kita tentu tahu, adat Bugis-Makassar untuk menyatukan sepasang kekasih yang saling mencintai tidaklah mudah. Ada rintangan yang berduri harus dilewati, bukan hanya rintangan restu tapi juga rintangan adat berupa uang panai, yang kadang memberatkan dan tak berprikemanusian. Tapi seperti itulah, adat hadir untuk membuat manusia saling menghargai satu sama lain. Uang panai adalah wujud penghargaan lelaki kepada perempuan dan kasih sayang orang tua kepada anak lelakinya, yang rela merogoh saku dalam-dalam demi kebahagian anaknya.

Banyak orang mengatakan bahwa menikah adalah wujud cinta yang paling nyata bagi seorang lelaki kepada perempuan dan begitupun sebaliknya. Saling mencintai harus diakhiri dengan pernikahan. Rasanya itu benar meski bagi saya tak sepenuhnya benar. Pernikahan bukanlah satu-satunya wujud nyata cinta. Tapi banyak cara, yang lebih brutal adalah saling melukai, saling meninggalkan.

Bagi saya, tidaklah penting seberapa besar sesorang mencintai kita, tapi seberapa lama ia mampu bertahan mencintai kita. Dan saya sangat yakin, Muhlis sanggup bertahan lama mencintai Aya’ dan Aya’ akan cukup tangguh dalam waktu yang lama mencintai Muhlis hingga keduanya tak lagi cukup menampung cintanya. Kenapa saya mengatakan itu, sebab mereka telah melewati rintangan cinta yang rumit selama bertahun-tahun. Dan apapun itu..selamat buat kalian. Cinta kalian penuh binar, penuh kebeningan..teruslah begitu…

Veteran Utara, 13 Agustus 2015


                                                                      Muhlis dan Aya 
Baca Lengkap

Vhy

Ada 0 Komentar
Harian Fajar, 8 November 2015Musim akan segera berubah. Ribuan kunang-kunang telah hijrah ke matanya. Itu tanda kemarau akan beralih ke musim basah. Tempat paling aman bagi kunang-kunang berlindung dari guyuran hujan adalah matanya. Di sana ada sebatang pohon yang rimbun—pohon cinta. Tapi tak mudah menemukan pohon itu. Tersembunyi cukup dalam dan rahasia. Belum ada yang mampu menembus rintangannya—sebuah labirin mencekam.

Memasuki matanya, sama saja memasuki ruang kematian yang tak kenal batas. Konon mata yang selalu dihijrahi kunang-kunang tiap jelang pergantian musim itu adalah mata perempuan. Dan perempuan itu senang menari bersama kunang-kunang. Tentu saja makhluk kecil berkelip itu akan riang menemukan tempat dan teman menari. Banyak orang mencoba menerabas ingin sampai ke matanya, tapi jatuh terpental dan gagal.

Sore beranjak ke senja. Dua lelaki, satu di antaranya bertubuh kurus masih berusaha menuntaskan tegukan terakhir kopinya. Percakapan mereka campur aduk, tapi berakhir pada satu arah. Perempuan yang di matanya membiak kunang-kunang.

“Aku pernah melihat perempuan itu menari, mungkin sedang menarikan tari pakarena. Tariannya gemulai, matanya berbinar, liukan tubuhnya lembut. Aku lupa berkedip ketika melihatnya menari,” jelas Busran, lelaki berkulit biji cengkeh yang telah dijemur. Lelaki kurus itu mendengarnya dengan takjub. Ia belum pernah menyaksikan seorang perempuan menari segemulai yang diceritakan Busran. Rasa penasarannya tumbuh—sangat subur.


 “Saat menari, kunang-kunang berhamburan dari matanya. Itu pementasan tari pakarena yang paling tak terlupakan,” lanjut Busran. Matanya kosong seakan menghadirkan kembali adegan tarian yang disaksikannya tersebut. Sejak Busran melihat tarian itu, ia jatuh cinta pada tarian. Tapi ia berkali-kali pula kecewa karena gagal menemukan tarian segemulai seperti yang pernah disaksikannya, dengan perempuan yang di matanya menghambur kunang-kunang.

 “Siapa nama perempuan itu?” tanya lelaki kurus tersebut.
“Tak ada yang tahu, orang-orang hanya memanggilnya, Vhy,” jawab Busran.

Percakapan itu berhenti. Senja datang terlalu cepat dan lelaki kurus tersebut harus pulang. Ia ingin menyaksikan kunang-kunang menari di antara pohon cengkeh. Dan ia ingin mengikuti kunang-kunang tersebut kemana pun pergi menyelamatkan dirinya dari musim basah. Jika benar pernyataan Busran, ada kemungkinan makhluk berkelip itu akan menuju ke mata perempuan penari tersebut.

Vhy, semalaman nama tersebut terus saja hadir dalam igaunnya. Ia berkali-kali terjaga. Besoknya, ia telat bangun. Matanya merah dan berkli-kali ia menguap. Ia menuju dapur—menyeduh kopi sendiri. Tapi sial baginya, gula telah habis. Tak ada jalan lain. Ia harus rela menyeruput kopi tanpa gul pagi itu. Saat ia menyeruputnya, bayangan ayahnya berlalu lintas. Ayahnya akan batu-batuk jika minum kopi yang bergula.

Suatu ketika, ada hajatan keluarga. Ayahnya menghadari hajatan tersebut dan disuguhi kopi yang telah menyatu dengan gula. Tak ada alasan untuk menolak. Ayahnya jadi tamu yang menghormati apa yang disuguhkan tuan rumah. Ayahnya tak ingin merepotkan atau dianggap pilih-pilih. Maka diseruputlah kopi tersebut. Dan sesampai di rumah, ayahnya batuk-batuk. Seminggu ayahnya tak bisa tidur karena batuk, hingga ia jatuh sakit. Kini ayahnya hanya terbaring lunglai di tempat tidur. Tubuhnya rapuh digerayangi batuk.

*****


Busran datang ke rumahnya jelang siang. Wajahnya kusut, sebatang rokok bertengger mengerikan di bibirnya—lupa dihisap.

“Semalam kunang-kunang bergerak ke arah sana,” ujarnya sambil menunjuk ke arah timur. Di mana awan sedang bertarung menghalangi matahari.
“Terus?” tanya kelaki kurus itu.
 “Mungkin akan menuju mata perempuan penari itu.”
 “Hahahahhaha jangan ngaco, Bus, tak mungkin ada kunang-kunang yang bisa tinggal di mata seseorang.” “Konon di matanya ada sebatang pohon yang rindang, tempat membiak kunang-kunang.” Lelaki kurus tersebut terperangah. Jadi benar cerita ayahnya, jika ada seeorang perempuan yang matanya dihuni kunang-kunang. “Iya, saya pernah dengar dongeng itu dari ayahku, tapi itu hanya dongeng.”
 “Itu bukan dongeng, bukankah kemarin saya ceritakan, saya pernah melihat perempuan yang di matanya menghambur kunang-kunang.”

Keduanya terdiam. Menerka berbagai kemungkinan. Mata lelaki kurus itu berbinar. Ide gila muncul di kepalanya. Tapi tak dibocorkannya kepada Busran. Ia ingin melakukan misi mustahil itu seorang diri.

Mengikuti kemana kunang-kunang tersebut hijrah. Ia telah bertekad akan mengikuti kunang-kunang tersebut sebentar malam ke arah sana, seperti yang ditunjukkan Busran tadi. Mungkin itu arah menuju Vhy, menuju matanya.

 ******

 Berkali-kali ia ta’buttu, malam terlalu pekat. Tak ada penerang, karena jika memakai obor atau senter kunang-kunang akan menghilang. Ia terus saja mengikuti rombongan kunang-kunang tersebut. Malam kian cekam tapi tak ada alasan berhenti. Jika berhenti ia akan kehilanga jejak. Semalam perjalanan terasa berat. Kakinya berdarah. Berkali-kali ia jatuh tapi tak menyerah. Ia ingin temukan dimana kunang-kunang tersebut membiak. Ia ingin buktikan apa yang diyakini ayahnya dan yang diceritakan Busran.

Rasa takutnya hilang, kian malam kerlipan kunang-kunang kian terang. Dan jelang pagi, kunang-kunang menghilang. Suara ricik air mengisyaratkan ia sedang berada di pinggir sungai pagi itu. Direbahkannya tubuhnya yang lelah. Ia tiba-tiba benci terang karena menghilangkan kunang-kunang. Saat malam, kunang-kunang kembali muncul. Sangat banyak dan ia terus saja mengikutinya. Jika siang ia akan berhenti karena kehilangan jejak dan malam ia akan berjalan semalaman penuh.

Delapan malam ia berjalan mengikuti kunang-kunang tersebut, namun belum juga sampai. Kakinya membengkak dan tubuhnya payah dicumbui lelah. Tapi ia tak ingin berhenti. Ia ingin sampai ke mata Vhy. Malam kesembilan ia memasuki sebuah kampung. Suara gendang dan puik-puik menyambutnya. Kunang-kunang kian banyak dan gerakannya makin cepat. Ia berlari mengikutinya. Hingga ia sampai pada sebuah rumah. Terang benderang, padahal lampu telah dipadamkan. Ia mengintip apa yang terjadi, dan ia menyaksikan seseorang perempuan di matanya dipenuhi kunang-kunang.

Matanya binar, serupa dipasangi lampu berwatt-watt. Tajam menggetarkan. Rambutnya hitam pekat sedikit bergelombang. Hidungnya tidak terlalu mancung tapi serasi dengan wajahnya. Alisnya melintang semut. Tingginya sekira 162 cm, gerakan tubuhnya terlihat awas tapi lembut. Mengagumkan sekaligus membuat jantung lelaki kurus itu serasa palpitasi.

Perempuan itu terus menari dengan gemulai. Di matanya tumbuh sebatang pohon yang rimbun—“Itukah pohon cinta yang penah diceritakan Ayah,” pikirnya. Tiba-tiba saja tubuh lelaki kurus itu serasa ringan. Ia terbang dan berubah kunang-kunang—lalu masuk ke mata perempuan itu. Ia merasakan kehidupan dan juga kematian berkali-kali di mata Vhy.  

Makassar, 8 September 2015

Cat: Dimuat di Harian Fajar, 8 November 2015 
Baca Lengkap

Perjalanan Tiga Sekawan

Ada 1 Komentar
Dunia akan luas dengan melangkah.... Kisah perjalanan tiga sekawan.


Perjalanan

Baca Lengkap

Seperti Kamu yang Sedang Ulang Tahun

Ada 0 Komentar
rasanya terlalu manja, jika kusebut namamu pada tiap doa
memantul dari masa menuju masa; pelukmu
sedari dulu aku tak beranjak dari sini, pada bekas tatapmu di mata
sesekali singgahlah; jelmakan jauh jadi dekap

kita pernah bertukar liur pada permen bergagang putih itu
kau celupkan ke mulutmu
lalu aku susupkan ke mulutku
tak ada rasa amis---hanya manis,
seperti itukah ciuman tanpa menggigit bibir, tanpa tergesa

aku ingin kau menangis di depan lilin yang lupa dinyalakan
korek tertinggal di kampung, di dapur ibu
usia tak pernah menghitung dirinya sendiri
dan kita tak pernah menangisi detik—mencuri usia kita

aku takut kehilanganmu
kau takut aku pergi—lagi dan lagi
kehilangan selalu menakutkan
tapi kita tak pernah takut kehilangan usia tiap detiknya
…..tak ada yang repot mencarinya di lipatan kenangan
pada buku SD di bawah laci meja

seperti kamu yang sedang ulang tahun
jarak antara masa lalu dan sekarang
 rentan jadi sebuah penyesalan
jadi andai yang panjang

sejak semalam aku ingin menulis puisi untukmu
ketika detak isyaratkan usiamu menuju angka baru
dimana kamu dari asing menjelma segala yang mungkin dinamai kekasih
dimana aku hanya ingin mencintaimu dengan walaupun
hingga napas Tuhan yang terakhir

tapi tak ada puisi untukmu, tak ada. hanya ada aku dan kamu menuju dekat

Rumah kekasih, 10 Januari 2016



Baca Lengkap

Mencari Perempuan Bugis-Makassar

Ada 0 Komentar
Pada sebuah sempat,  saya memasang foto kamar saya  yang berantakan karena sedang dicat  di BlackBerry Messenger (BBM). Saya memberi keterangan (status) pada foto tersebut, “kamar ini sepertinya butuh sentuhan perempuan.” Saya juga menambahkan dua emoticon tertawa.

Seorang teman BBM saya mengomentarinya, “Halalkan cepat perempuanmu.” Saya hanya mengirimkan emotion senyum kepadanya. Ia membalasnya, “kenapa senyum?” Saya memutuskan mendiamkannya beberapa saat. Saya kembali sibuk mengecat kamar saya. Rasa capek setelah beraktivitas seharian membuat saya ingin cepat mengusaikannya lalu tidur.

Saat membenahi kamar, saya terusik dengan saran teman saya itu. Ia tinggal di luar Sulawesi Selatan (Sulsel) tepatnya  di Denpasar, Bali. (Jangan tanyakan kenapa saya bisa dapat pin BBMnya, sebab saya juga tidak tahu). Aktivitas mengecat kamar saya hentikan. Saya kemudian mencuci tangan. Membiarkan aroma cat memenuhi kamar saya, membiarkan peralatan yang saya gunakan berserakan. Saya membaringkan tubuh kurus saya. Rasa capek menyergapnya.

“Sedang mencari perempuan yang akan dihalalkan,” balas saya kemudian sambil berbaring.
“Kan banyak tuh perempuan di kampung kamu, masa’ tidak ada yang mau?” balasnya lagi.
“Mencari perempuan Bugis-Makassar tidak hanya mencari perempuan yang akan menjadi pendamping hidup, tapi juga harus mencari sejumlah uang untuk menghalalkannya berupa uang panai, ” balas saya.
“Saya tak mengerti,” balasnya.

“Tidak mudah menghalalkan perempuan Bugis-Makassar,”  balas  saya lagi. Lalu percakapan (chat) kami berlanjut, diskusi ringan jarak jauh. Teman saya itu menawarkan diri menjadi perempuan Bugis-Makassar. Dia ingin seberuntung perempuan Bugis-Makassar yang dihormati oleh lelaki dalam bentuk uang panai’ yang jumlahnya bisa menyentuh angka ratusan juta rupiah. Dan saya ingin menjadi lelaki Denpasar, yang “mungkin” jika ingin menghalalkan perempuannya tidak serumit dalam masyarakat saya.
Saya mencoba pahami perasaan teman saya itu, sebagai perempuan tentu dia ingin memiliki lelaki yang rela membuktikan cintanya dalam bentuk yang lebih besar. Ingin diperlakukan istimewa dan dihargai.  Uang panai’ bukanlah sebuah upaya untuk membeli perempuan dari keluarganya. Bukan pula sekadar untuk membiayai pesta pihak perempuan. Tapi uang panai adalah salah satu bukti mengistimewakan dan menghargai perempuan.

Uang panai adalah upaya pembuktian cinta yang besar. Tidak sedikit lelaki yang rela mengorbankan apa saja demi menghalalkan perempuan yang dicintainya untuk diikat dalam  ijab Kabul. Jika cinta sejati adalah pembuktian, adalah pernikahan. Maka lelaki yang menikahi perempuan Bugis-Makassar dengan alur adat yang seharusnya adalah pejuang cinta sejati sesungguhnya.

Uang panai menjadi fenomena tersendiri. Banyak dibincangkan, bahkan menjadi lelucon. Seorang teman pernah bergurau bahwa investasi paling baik dan menjanjikan sekarang ini adalah tanah, rumah dan anak perempuan. Gurauan tersebut saya hanya tanggapi dengan tertawa, tapi memiliki anak perempuan sebagai sebuah investasi orang tua dalam masyarakat Bugis-Makassar juga ada benarnya. Meski menjaga satu anak perempuan, kata sebagian orang lebih sulit  daripada menjaga puluhan kerbau.

Chat kami terus berlanjut malam  itu. Berkali-kali teman BBM saya tersebut mengungkapkan kekagumannya terhadap budaya Bugis-Makassar yang sangat menghormati perempuan-- yang dibuktikan dengan uang panai. Sebuah bukti kerelaan dan tanggung jawab dari calon suami. Saya katakan kepadanya bahwa keberadaan uang panai bukan tanpa cacat. Tidak sedikit  pasangan kekasih rela mengubur impiannya membina rumah tangga karena ketidakcocokan uang panai. Banyak  rela silariang (kawin lari) menantang maut, melupakan malam paccing, melupakan suara gendang Makassar,  dan meninggalkan kampung halamamnya hanya karena uang panai’.

Perempuan adalah salah satu sumber sirik paling besar dalam masyarakat Bugis-Makassar. Tidak sedikit terjadi pertumpahan darah hanya gara-gara perempuan. Misalnya dalam kasus silariang, pihak perempuanlah yang paling terkena dampak siri’ yang disebut tomasiri (orang yang dipermalukan).  Dalam hal silariang, seorang lelaki bisa dengan leluasa bertemu keluarganya, bahkan tinggal di rumah keluarganya selama silariang, sementara pihak perempuan tidak bisa melakukan hal tersebut.  

Seorang lelaki yang menikahi perempuan Bugis-Makassar dengan alur yang semestinya. Haruslah berbangga diri, karena telah membuktikan satu bukti cinta yang besar.  Saya yakin, pihak perempuan tahu bagaimana susahnya pihak lelaki mencari uang panai demi  dirinya, demi cinta mereka. Maka sudah seharusnya uang panai menjadi tameng untuk mengawetkan kehidupan berumah tangga. 

Percakapan kami via BBM terus mengalir hingga malam jatuh pada titik larutnya yang sepi. Saya melupakan rasa capek karena seharian beraktivitas. Sebelum kami mengakhir chat malam itu karena dikalahkan kantuk. Teman saya tersebut tetap menunjukkan kengototannya ingin menjadi perempuan Bugis-Makassar. 


Rumah kekasih,  2015



















Cat: Dimuat di Harian Fajar, 20 Desember 2015
Baca Lengkap

Google+

Isi Blog