Surat Pertama

Ada 3 Komentar
Kepada Kamu

Jika saja kau menatap mataku saat ini, ketika menulis surat pertama ini untukmu. Kau akan menemukan tumpukan rindu yang mengalir jadi gelisah di sana. Tapi kali ini, aku menemukan satu hal dari tiadanya kabarmu—aku akhirnya paham, aku membutuhkan dirimu. Pasti kau akan tertawa mendengar pengakuan polos itu, dari lelaki yang bahkan tak pernah kau temui sekalipun. Pertemuan adalah takdir lain dari rindu. Kita telah saling bertemu secara non fisik, pertemuan secara fisik (nyata) hanya akan jadi penyempurna dari pertemuan sebelumnya.

Ada banyak hal yang akan kau jumpai dalam diriku—yang barangkali menjadi sebuah keanehan bagimu. Dari keanehan itu, pucuk-pucuk rindu akan lebih mekar, akan lebih mengalir jernih dalam jiwa yang berupaya saling menemukan. Aku berusaha pahami jika ini bukanlah rindu, ini hanya perasaan sepi yang disebabkan kesendirian yang panjang. Tapi, aku gagal sendiri meyakinkan diriku. Rasa ini adalah rerumputan yang menyambut datangnya musim hujan.

Aku temukan ide untuk mengusir rindu itu dengan cara datang kepadamu bercerita—perihal apa saja. Maka aku mulai menulis surat untukmu. Aku tahu, jarak kita tak memungkinkan untuk saling menjenguk dalam pelukan, saling menatap mata yang lelah karena kesibukan masing-masing. Kamu sibuk dengan kerjaanmu dan aku sibuk merindukanmu. Merindu itu lebih berat dari apapun, merindu pekerjaan yang menolak selesai. Datang saat tak diinginkan sekalipun.

Perkenalan kita rasanya sudah cukup lama. Aku selalu ingat peristiwa ketika kau datang menyapa melalui BlackBerry Messenger (BBM) saat melihat tampilan Display Picture (DP)-ku dengan kamar yang berantakan. Kau menyuruhku menghalalkan perempuanku. Aku tersenyum kalah saat itu, jika saja kau tahu. Belum ada perempuan yang akan kuhalalkan. Lalu semuanya seolah berjalan sesuai takdirnya. Dan diam-diam sejak saat itu, aku selalu berdoa, Tuhan mengabulkan semua pintaku atas dirimu.

Adamu mampu mengusir air mata duka dari mataku. Tentu kau ingat peristiwa di ujung Januari tahun ini (2016), tepatnya tanggal 28 itu. Duka merebak dalam keluargaku. Seseorang yang sangat berarti menuju jalan yang tak punya pintu kembali ke dalam pelukan kami. Itu peristiwa duka yang sangat dahsyat. Aku sering temukan mata sembab Ayah dan Ibu. Dan aku sendiri selalu gagal untuk tidak menangis hingga kini. Aku menemukan kesedihanku. Namun mengingatmu, rasa sedih itu beralih. Adamu menumbuhkan dedaunan yang layu dipapar kemarau.

Peristiwa di ujung Januari itu mengajariku banyak hal, termasuk kehilangan dan bagaimana menemukan kesedihan. Aku merasa tak lagi terlalu takut untuk kehilangan. Tapi aku selalu merinding jika membayangkan kau akan pergi dengan sisa pelukan yang belum selesai dalam tubuhku. Aku ngeri membayangkan bagaimana panjangnya kesepian ini jika kau beranjak dari ada menuju tiadamu atau di sisimu seorang yang lain menyandarkan kepalamu yang lelah.

Sekarang aku ditemani segelas teh dan dua biji donat yang dilamuri gula—seorang diri, tentu saja sambil membayangkan kamu datang mengetuk pintu dengan mata redup setelah perjalanan cukup jauh dari satu kota ke kota lain atau saat kau lelah bertarung dengan data-data lalu merengek manja ingin tidur di bahuku. Tak perlu khawatir, sekurus ini, bahuku akan sanggup menopang lelahmu yang tanak.

Bagaimana pertemuan kita kelak? Seringkah kau membayangkan jika itu akan lebih romantis dari pertemuan bunga dengan air yang buatnya tumbuh atau lebih mengerikan dari pepohonan yang rantingnya dirampas benalu yang buatnya meranggas?

Aku mulai belajar menulis puisi untukmu, sebagai kado rindu yang terus saja manja dalam diriku.

datanglah bersama angin yang menerobos dari jendela kamar. 
memainkan mataku yang terus tajam menatap arah datangmu. 
aku ranting ditumbuhi pucuk daun. 

ada surat kutulis pada dilipatan jarak kita yang mulai kokoh. 
seberapa jauh jalan kita tapaki. 
menuju titik temu di sebuah ragu. 

aku dari asing. kau dari asing. 
pepuisi masih terus ditulis, sebagai teman menyeruput kopi saat sendiri. 

di sini, kabarmu kugantung lebih dekat dari denyutku, lebih jauh dari diriki sendiri. 
seberapa beranikah kita tetak jarak. 

di sini, lagu masih dinyanyikan dengan serak. 
aku masih berjalan mencari sepotong cahaya yang dicuri pagi. 

lalu siapa yang mencipta jarak-- aku, kamu atau rindu? 

Rumah kekasih, 16 Mei 2016

3 komentar:

  1. Cerita yg mengharukan, kisanak..

    Jadi inget blog ku yg sdh lama tdk kurawat ����

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih....saya juga jarang jenguk blog ini...ayo rawat lagi blognya

      Hapus
  2. Iyaa kisanak, saya keasyikan main game jadi males nulis yang panjang2 gini..hehee

    BalasHapus

Google+

Isi Blog