Boleh Kau Sebut Apa Saja!!!

Ada 0 Komentar
merasakan cemas, beku dalam darah--pucat
 aku duduk dalam tatapan tajam duri-duri, tunggui tikaman merobek segala sendiku
 hingga ke tulang-tulang paling sembunyi.

 pesakitan selalu punya alasan lari dari pertarungan, seperti lari menghindari hujan dengan alasan sederhana--takut basah.
aku memilih bertahan, gemetar dalam cemas.
sebab lari berarti akhir.

dua tahun dengan harapan cemas, diakhiri dengan duduk sendiri, menangkis peluruh yang berubah pertanyaan.
tubuh rapuhku selamat, tulang-tulangku selamat, tapi jalan membentang kian panjang.
aku baru saja mulai perjalanan, beban terasa batu di pundak.

telah lama tersulam kata usai, di buku buku masa lalu.
usai bukan titik, usai adalah memulai kembali, usai melanjutkan dengan kebaruan.
waktu akan lebih liar dari sebelum hari ini.

 jantungku hampir palpitasi, dicemaskan pertanyaan, yang pada akhirnya tidak sampai membinasakan.
 tidak sampai menembus batas tulangku, apalagi mencuri rusukku yang disimpan kekasih.

aku jadi kisah, yang akan menceritakan sendiri kisahnya.
 bukan tentang hujan yang turun menggagalkan keceriaan matahari
bukan tentang kekasih yang lupa mengucapkan selamat malam pada kekasihnya sebelum tidur.

 ini tentang jalan samar yang penuh kejutan.
 aku telah menjelma kisah, yang akan sampai pada waktu jauh sesudah hari ini--kelak
 boleh kau sebut apa saja; misalnya kekasih.

 Rumah kekasih, 15/4/2016

Add caption
Baca Lengkap

Google+

Isi Blog