Baca-baca

Ada 0 Komentar

Ada saja perihal yang membuatmu bisa mengunjungi sebuah tempat berkali-kali. Tadi sore untuk ketiga kalinya saya mengunjungi Batu Niah, sebuah kota kecil yang tidak terlalu jauh dari Sarawak Oil Palms Berhad, Sarawak, Malaysia.

Di sana, kota itu, meski kecil tapi tertata rapi. Tak ada serakan sampah. Menuju Batu Niah, kamu serupa mengunjugi bantimurung, gunung batu menjulang. Di gunung batu itu, terdapat gua yang panjang, 3 km tempat burung walet menyandarkan hidupnya. Jangan tanya penaka apa gua itu, saya tak punya sempat mengunjunginya, meski tiga kali saya mengunjungi Batu Niah.

Jika kamu pernah membaca novel Nicholas Spark atau menonton film dari novel itu yang berjudul Safe Haven. Di sana kamu akan temukan sebuah kota kecil, tempat bus berhenti sebelum melanjutkan perjalanannya ke kota lain yang lebih ramai.

Barangkali, Kota Batu Niah sekecil kota yang digambarkan dalam novel itu. Tapi, Niah berbeda, banyak toko di kota kecil itu, banyak  warung makan, namun terkesan sangat sepi untuk ukuran yang namanya kota. Tiga kali saya mengunjunginya, tak sekalipun kudengar ada klakson berbunyi atau suara peluit tukang parkir, di Niah dan juga Bintulu, tak ada hal itu.

Bintulu, kota yang besar tapi tidak riuh. Kendaraan bertebaran, tapi tak ada bunyi klakson, lampu merahnya kalem, tidak ada upaya saling mendahului yang buat telinga sesak yang membuat degupan jantung berdebar lebih kencang

Di Niah, orang Bugis mudah di temukan, tak sedikit dari mereka yang telah jadi warga Malaysia, mereka berdagang di Niah, mereka telah meninggalkan tanah Bugis bertahun-tahun, tapi ada satu yang tidak tinggal, selalu saja ikut, bahasa dan budayanya.

Di Galasah, tidak jauh dari Niah, di sebuah permukiman para TKI ada yang menghuni rumah batu, ada yang menempati rumah kayu, bergantung di area mana mereka bekerja. Yang bekerja di kilang 'pabrik' akan menempati rumah batu, dan rumah kayu, mereka yang bekerja di ladang.

Malam ini, malam yang belum larut, Bugis-Makassar kembali tumbuh di sini, di Galasah, sebuah ritual yang diikutkan dalam rantau, yakni baca-baca atau ma'baca-baca hidangan, yang tentu saja ada songkolo yang dibaca-bacai oleh sanro atau guru sebelum disantap bersama. Hal ini dilakukan sebagai bentuk syukur, ya rasa bersyukur setiap orang, suku atau bahkan negara tentu berbeda. Dan masyarakat Bugis-Makassar bersyukur dengan cara ma'baca-baca hidangan sebelum disantap bersama.

Tentu saja selain berharap keselamatan, ritual seperti itu adalah salah satu upaya menjaga silaturahmi, karena biasanya orang yang menggelar ritus ma'baca-baca akan memanggil tetangga dan keluarganya.

Aahh, saya hampir lupa, kenapa bisa hingga tiga kali ke Niah, kota yang "mati" di hari Senin itu, sebab toko-toko dominan tutup, jika kamu mau ke Niah untuk melihat geliat perekonomian warga, jangan datang di hari Senin. Senin adalah waktunya Niah tertidur, istirihat. Namun, jika ingin melihat kota tidur siang hari, datanglah ke Niah di hari senin.

Yang mengharuskan saya ke Niah hingga tiga kali hanyalah hal sepele, celana yang saya beli terasa sempit di pinggang saya. Saya mencurigai diri saya sendiri, barangkali berat badan saya sedang naik. Oya, sebelum membeli celana itu, saya telah melingkarkan pinggangnya di leher saya. Biasanya itu akurat.

Saya tak tahu siapa yang temukan teori itu, namun jika lingkaran pinggang celana cocok di leher setelah dilipat dua, maka akan cocok di pinggang pula. Atau jangan-jangan setiap anggota tubuh kita memiliki ukuran yang sama dengan anggota tubuh yang lain, dengan kata lain anggota tubuh memiliki pasangannya dalam hal ukuran. Ia tidak jomblo.

Galasah, Sarawak, Malaysia, 17/1/2017

Baca Lengkap

Google+

Isi Blog