Pagi yang Ringan di Rumah Kekasih

Ada 0 Komentar

Sepulang dari Bulukumba menemui Ayah dan Ibu malam Senin lalu. Saya belum pernah meninggalkan rumah kekasih sejauh 100 meter. Saya hanya keluar sejenak membeli beberapa keperluan. Lalu kembali ke rumah.

Ada beberapa ajakan "ngopi" dari beberapa teman, tapi tidak pernah saya kabulkan. Bukan karena saya sibuk, bukan juga karena saya mulai tidak jatuh cinta pada kopi. Tapi, ini tentang janji pada pertemuan yang lain, dengan orang yang berbeda.

Sejak hari Rabu lalu, seseorang berjanji akan ke rumah, tapi saat itu, saya sedang menuju Pinrang. Janji itu tertunda lalu beralih ke hari Jumat pagi. Tapi, saya tiba larut malam di malam Jumat, dan barangkali teman yang mau berkunjung paham, saya capek. Sehingga janji kunjungannya beralih ke sore dan hal lain terjadi, sore itu di hari Jumat, saya ke Bulukumba.

Dan seperti itulah, di era yang semakin canggih sekarang ini, kendaraan dan alat komunikasi memungkinkan kita bisa lebih menepati janji dengan tepat waktu, justru semakin sulit. Ada saja hal-hal yang membuat janji menjadi tidak penting untuk ditunaikan.

Dua hari ini, saya belajar menepati janji untuk menunggu "dia" berkunjung ke rumah kekasih. Saya ingin membayar kegagalan janji lalu yang tidak terwujud dan dua hari itu pula janji itu belum menepi menuju pertemuan.

Pagi ini, barangkali akan jadi saksi awal hari ini, bahwa janji bukanlah hal yang terlalu penting ditepati. Janji hanya perlu diumbar saja. Dan saya merasa pagi ini terasa sangat ringan, meski tanpa kopi dan Arsenal dibantai oleh Bayer Munchen dengan agregat 2-10.

.....rupanya di luar sedang hujan....mungkin hari ini akan mencukupkan tiga hari tiga malam saya memanja di rumah kekasih, tanpa ke mana-mana.

......jadi anak rumahan itu manis, hahahahahaha....

Rumah kekasih, 8/3/2017



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Google+

Isi Blog